THE KIDS AREN’T ALL RIGHT!

Anak-anak itu kadang nggemesin, terutama yang umurnya balita sampai TK. Tapi beberapa juga sudah menyebalkan sejak memasuki kelas satu SD. Anak-anak itu lugu, pada dasarnya. Namun anak-anak juga bisa menjadi karakter yang sangat kontras dengan dunianya yang indah  di beberapa film. Dan ini beberapa film pilihan saya, para aktor cilik yang diberikan peran yang mengundang kontoversial. Walaupun sebenarnya tidak selalu anak-anak (contoh iblis yang merasuki anak-anak, orang dewasa jahat yang statue-nya seperti anak-anak), tetapi karena pemeran yang masih cilik, belum menginjak umur 13 tahun, maka menjadi pertimbangan . Ini list yang dibuat tanpa rank, jadi pilhannya ya random. Ada 13, dengan alasan sederhana : karena 13 angka yang dikenal angker hehehe … Kalau ada rekomendasi, yah, dari film favorit atau anak tetangga atau ponakan yang masuk dalam syarat, bisa diajukan, hehehe. SPOILER ALERT!

1. Samara Morgan (THE RING (USA))

Kalau nonton Ringu, versi Jepang dari film ini, sosok hantunya, Sadako diperankan oleh perempuan remaja. Entahlah, kenapa versi Amerika ini memilih anak kecil sebagai hantu pembalas dendam bernama Samara (Daveigh Chase, suka banget denger suaranya sebagai Lilo dalam Lilo & Stitch) yang kecanduan membunuh orang dengan kekuatannya, siapa saja walaupun mereka bersimpati padanya. Samara bisa ‘mengedit video’ dan menelepon. Lalu muncul dihadapan Anda sekalian dengan mengarahkan ‘pelototan mata’ sebagai caranya membunuh dan ia tak dapat dihentikan.

2. Joshua Cairn (JOSHUA)

Saya tidak yakin motif nih anak melakukan semua kejahatan gara-gara iri sama adik perempuannya. Kalau dia iri, sudah pasti dia bunuh saja adiknya. Tapi ini, mulai dari meneror sang ibu, membunuh anjing, mendorong neneknya sampai tewas, sampai membuat si bapak menamparnya berkali-kali dihadapan publik, Joshua (Jacob Cogan) malah terlihat seperti seorang psikopat cerdas yang sedang tumbuh.

3. Gage Creed (PET SEMATARY)

Ajaib, sebelum mati, Gage (Miko Hughes) terlihat lucu banget, menggemaskan. Tapi lihat mimiknya setelah bangkit dari kubur! Waa dengan pisau begitu! Mungkin orang-orang yang nonton film ini ketika awal rilisnya terkesima sama bocah yang masih ngompol sembarangan bisa acting jadi mayat hidup yang doyan membunuh orang. Tapi, untuk hal ini, …apakah tidak absurd. Melawan setan bocah saja tidak bisa. Kalau saya sih, tinggal dilibas pakai kursi saja, pasti si Gage sudah K.O.

4. Esther (ORPHAN)

Nah, kalo yang ini termasuk aktornya yang cilik. Walaupun begitu, kita selalu memandang si Esther (Isabelle Fuhrman) sebagai anak kecil. Iya, anak kecil yang jahat, yang memiliki banyak misteri yang tak boleh diketahu orang lain dan semua penonton tahu kenapa Esther naksir betul sama ayah angkatnya. Esther punya banyak akal licin baik demi kelangsungan hidupnya atau demi kelancaran dalam upayanya menghabisi nyawa orang lain.

5. Hit-Girl / Mindy Macready (KICK-ASS)

Tak bisa dibayangkan, biasanya di film kita cuma mengenal sama pembunuh komersial dengan julukan hitman dan Kick-Ass memperkenalkan kita pada Hit-Girl, sosok gadis cilik yang beraksi dengan cekatan menghabisi lawannya tanpa ampun mulai dengan menggunakan katana sampai pistol. Tampilan gadis mungil nan manis Mindy Macready (Chloë Grace Moretz) ternyata cuma tipuan dimana kata-kata kasar dan senjata adalah mainan sehari-harinya.

6. Claudia (INTERVIEW WITH THE VAMPIRE)

Vampir cilik ini begitu buas setelah dirinya tahu bahwa darah itu sangat lezat. Guru les pianonya saja juga jadi korban. Pokoknya mau darah, lagi dan lagi. Film vampir selalu berkaitan dengan yang namanya seks dan videotape … maaf, darah maksudnya. Dan agak tabu sebenarnya menampilkan anak-anak dalam dua hal seperti itu. Namun Kirsten Dunst terlihat ‘alami’ saat melakukan adegan berciuman dan membunuh Lestat.

7. Jennifer ([REC])

Anak kecil yang digendong ibunya dan sempat diwawancara tokoh utama film ini, begitu pendiam. Tentu saja begitu, karena Jennifer (Claudia Silva) sedang demam, hingga semuanya berubah kacau kala Jennifer menyerang sang ibu. Sosok gadis cilik ini adalah zombie paling stand out dalam film bertema demonic zombie dari Spanyol ini. Jarang ada anak kecil memerankan zombie dengan ‘lepas’ seperti ini. Di layar, Jennifer terlihat begitu berbahaya dan mengerikan! Dan ia masih tampil dalam sequel-nya.

8. Dark Alessa/The Reaper (SILENT HILL)

Ada tiga peran yang harus dimainkan oleh Jodelle Ferland: Sharon, Alessa kecil dan si iblis dengan wujud gadis cilik. Sebagai aktor cilik, Jodelle sebenarnya terlalu banyak bermain dalam film bertema supranatural dan sejenisnya. Namun, perannya sebagai The Reaper dengan wajah pucat serta aliran darah dari mata inilah yang agak remarkable. Apalagi dia punya tujuan membalaskan dendam dengan menghabisi nyawa para penganut ajaran sesat yang telah merenggut masa kecil Alessa.

9. Olive Hooper – (LITTLE MISS SUNSHINE)

Olive Hooper (Abigail Breslin) begitu gembira untuk turut serta dalam beauty pageant versi anak-anak. Semua peserta menampilkan bakat yang biasa dilihat pada umunya, seperti menyanyi dan lenggak-lenggok. Namun Olive punya sesuatu yang lebih dari anak-anak lain miliki; sebuah tarian erotis ajaran sang kakek, yang sepantasnya ditampilkan oleh seorang striper dan bukan seorang gadis cilik. Mungkin karena peran inilah Breslin dipilih menjadi anak Ryan Reynolds dalam Definitely, Maybe untuk mengucapkan kata “penis & thrust” dengan ‘lantang’.

10. Yeong-ju – (PHONE)

Sama halnya seperti Esther, Yeong-ju (Eun Seo-woo) juga punya masalah hati dengan ayah kandungnya. Tapi kasusnya berbeda. Ia dirasuki arwah selingkuhan si ayah. Makanya sebagai anak kecil, ia rewel bukan karena pengen sesuatu, tapi pengen selalu dekat dengan ayahnya yang sekaligus kekasihnya. Ciuman penuh nafsu yang dipagutkan si gadis cilik kepada ayahnya bakal membuat beberapa penonton takjub bukan kepalang dan berfikir kalau Eun Seo-woo sudah memilik bakat untuk bermain dalam film romans dewasa.

11. Walker & Texas Ranger Bobby – (TALLADEGA NIGHTS: THE BALLAD OF RICKY BOBBY)

Dua anak ini punya mulut paling kotor sedunia. Sama siapapun, bahkan dihadapan orang tua dan kakek mereka, Walker (Houston Tumlin) dan Texas Ranger (Grayson Russell) tidak punya rasa sopan sama sekali. Dengan santainya mereka mengumpat. Tapi dengarlah umpatan yang mereka lontarkan. Texas Ranger memiliki umpatan agak sedikit lembut dengan teriakan “ANARCHY! ANARCHY!”, namun beda dengan Walker yang lebih tua, ia punya banyak kata-kata jorok nan kasar untuk dilontarkan  hingga sang kakek hanya bisa mengelus dada mendengarnya.

12. Henry Evans – (THE GOOD SON)

Ini adalah keputusan berani Macaulay Culkin setelah penampilan menggemaskannya dalam dua film Home Alone. Henry (Macaulay Culkin) adalah bibit psikopat yang punya wajah imut.  Membunuh anjing tetangga dan merasa senang menjadi penyebab kecelakaan lalu lintas hanya sebagian kecil dari sisi psikotiknya. Selain pandai memperdaya orang-orang  disekitarnya, ia juga berencana membunuh semua anggota keluarganya. Mengerikan!

13. Oskar & Eli (LET THE RIGHT ONE IN – Låt den rätte komma in)

Jangan bandingkan ini dengan dongeng vampire Twilight. Oskar (Kåre Hedebrant) adalah bocah yang sering di-bully di sekolah, dan ia punya hobi aneh, mengumpulkan berita-berita kriminal dan pembunuhan serta senang menyendiri dengan rubik-nya, bersahabat dengan Eli (Lina Leandersson) seorang penghisap darah yang selalu tampak seperti gadis cilik lugu. Dengan unsur darah , kegelapan dan kesadisan, anak-anak seharusnya tidak berada di film ini, tapi lihatlah senyum keduanya setelah terjadi beberapa kematian.

Posted in Apapun Itu | 1 Komentar

THE DEAD GIRL

Saya menonton film ini sebelum kematian Brittany Murphy. Entah memang menjadi pertanda atau apa. Dan saya mengira ini film horror (ada film horror yang berjudul sama). Pada kesempatan pertama, saya tonton film ini dengan keadaan ngantuk dan urung dinikmati a.k.a akhirnya tidak ditonton. Suatu hari, setelah acara membersihkan lemari, saya temukan kembali film ini dan mencoba untuk menontonnya. Eh, ternyata nge-hook. Benar-benar sebuah film indie yang bertaburan bintang layaknya It’s the Rage atau 20 Bucks. Film ini dibagi dalam lima cerita yang memiliki benang merah berupa judul filmnya sendiri.

Diawali dengan The Stranger yang berfokus pada tokoh Arden (Toni Collette) yang tinggal bersama ibunya.  Arden adalah wanita pendiam dan pemalu hingga ia menemukan mayat sang gadis dan menjadi sorotan dan bertemu dengan Rudy (Giovanni Ribisi) seorang pria penjaga toko yang menjadi teman kencannya.

Kedua, The Sister, tentang seorang mahasiswi forensik bernama Leah (Rose Byrne) yang depresi dengan hilangnya saudara perempuannya selama 15 tahun. Depresi ini timbul akibat sikap orangtuanya yang masih yakin bahwa anak mereka suatu saat pasti kembali. Leah meyakini bahwa sang gadis yang ia autopsy adalah saudaranya dikarenakan adanya tahi lalat yang memilki kesamaan letak.

The Wife merupakan cerita ketiga tentang seorang istri, Ruth (Mary Beth Hurt) yang tidak bahagia dengan pernikahannya dimana sang suami Carl (Nick Searcy) yang tak tahu berterima kasih sering tidak berada di rumah, sementara ia tetap melaksanakan kewajibannya mengurus rumah dan memasak. Pada suatu saat Carl pergi, Ruth menemukan laci berisi pakaian wanita yang sobek dan berdarah. Diantara ingin melaporkan suaminya atau menjaga keutuhan rumah tangga, Ruth malah mengenyahkan barang bukti yang ia temukan.

The Mother adalah bagian yang agak menenangkan dan mengharukan setelah menonton tiga cerita penuh depresi diatas.  Dalam bagian ini, diceritakan seorang ibu bernama Melora (Marcia Gay Harden) yang merupakan orang tua dari Krista, the Dead Girl, tengah mencari dimana keberadaan terakhir sang anak  sebelum meninggal. Ia bertemu dengan Rosetta (Kerry Washington) yang merupakan teman sekamar sekaligus ‘kekasih’ Krista yang menceritakan segala hal yang dihadapi Krista semasa hidup.  Melora juga dipertemukan dengan sang cucu yang akan bawa dan rawat.

Dan terakhir adalah bagian yang merupakan titular dari film ini, The Dead Girl mengambil masa sebelum Krista (Brittany Murphy) menemui ajal. Dalam bagian ini kita diperlihatkan sosok Krista yang manis dan selalu ceria. Melakukan perjalanan untuk menemui putrinya yang akan berulang tahun. Di jalan ia bertemu dengan Carl, dari bagian The Wife, yang memberi tumpangan sekaligus sebagai seseorang, yang penonton ketahui sendiri sebagai pembunuh dari Krista.

Sebenarnya saya juga perlu panjang lebar memaparkan bab-bab dari filmnya. Namun, karena ini bukanlah film misteri thriller maka sinopsis diatas bukanlah sebuah spoiler. Bagi yang  suka dengan Four Rooms, Babel, Amores Peros, It’s The Rage tak dapat disangkal, The Dead Girl akan mudah disukai. Film ini ditulis dan diarahkan oleh seorang sutradara wanita, Karen Moncrieff yang telah muncul di banyak serial dan film televisi. Walau memiliki direktorial layar lebar sangat sedikit (ada tiga termausk The Dead Girl ini), namun film sebelumnya berjudul Blue Car (dari dulu sampai sekarang belum dapat –dapat filmnya) yang berisi kisah cinta terlarang antara murid dan guru, banyak menuai pujian.  Entah karena hal itu atau karena naskahnya, berbondong-bondong aktor kelas A mau bergabung dalam film ini. Dan ensemble casts inilah yang merupakan magnet dari film ini.

Tampilan sederhana memperkuat kekelaman dan kesuraman yang ditawarkan film ini. Bukan film yang berat, namun menarik dan memuaskan.  Aktor-aktornya tidak ada yang tampil ‘menor’ karena dituntut lusuh. Dan mungkin dikarenakan sebagian besar aktornya langganan film drama, semuanya terlihat menawan. Beberapa aktor pria yang tampil di film ini adalah aktor favorit moviegoers ; Giovanni Ribisi, James Franco dan Josh Brolin yang rela tampil ‘sedikit’. Juga jangan kaget, karena film ini penuh dengan perempuan –dari judul, dominasi pemain hingga sutradaranya- tidak salah kalau mereka sedikit “have fun”. Iya, mungkin karena sama-sama perempuan tiga dari aktor wanita disini (tak mau sebut namanya, biar penasaran hehehe) dengan nyamannya melepaskan pakaian mereka (ciri khas film indie nih) yang sepertinya merupakan penggambaran dari melepaskan diri dari “kegelisahan, kegundahan dan masalah yang menerpa” dan lesbian scene antara Kerry Washington dan Brittany Murphy itu juga termasuk.

SCORE : 4/5

Posted in Film Ini Itu | Tinggalkan komentar

THE FRIGHTENERS

Ini adalah film Peter Jackson yang kurang ‘nyaring’. Padahal dari sisi hip dan hiburan, film ini selayaknya menjadi tontonan popular dan dikenal oleh penggemar film. Bisa dibilang ini adalah film Jackson yang underrated setelah melegendanya Braindead (untuk pasaran Amerika judulnya Dead Alive). Film Amerika pertama Peter Jackson yang dibuat setelah tiga tahun dari rilisnya Braindead ini diproduseri oleh Robert Zemeckis dan ditulis oleh istri Jackson sendiri, Fran Walsh. Sebagai fan yang mengidolakan Michael J. Fox, Zemeckis meminta karakter Frank dalam film ini dibuat khusus hanya untuk J. Fox.

Filmnya sendiri adalah spesialisasi Peter Jackson; fantasi-horror-komedi (walaupun sebenarnya ia ahli di genre mana saja). Artinya sebrutal,sesadis, semengerikan apapun tampilannya selalu ada jeda untuk tertawa. Berkisah tentang Frank Bannister (Michael J. Fox), seorang cenayang yang telah mendapatkan reputasi sebagai penipu. Padahal bakat yang ia miliki memang ada. Sayangnya ia menggunakan kemampuannya dengan salah; berteman dengan tiga hantu yang ia jadikan rekan kerja –menyuruh ketiganya untuk menghantui sebuah rumah hingga pemilik rumah terpaksa menghubungi ‘pengusir hantu’, siapa lagi kalau bukan Frank sendiri.

Namun kejadian aneh menghantui kota yang bernama Fairwater ini. Beberapa orang mati dengan jantung diremas. Padahal pemeriksaan menyatakan tubuh mereka dalam keadaan normal dan tak memilki penyakit jantung. Frank pun belum mengetahui apapun tentang kematian ini hingga ia bertemu dengan pasangan suami istri, Ray Lynskey (Peter Dobson) dan Dr. Lucy Lynskey (Trini Alvarado) yang merupakan korban penipuan Frank. Saat ‘drama pengusiran’ di rumah mereka, Frank melihat angka muncul di dahi Ray. Entah pertanda apakah itu, namun keesokan harinya Frank sudah bertemu dengan Ray yang tak sadar dirinya telah meninggal. Ray meminta Frank menjadi penghubung antara dirinya dan istrinya, Lucy. Keduanya kemudian mengadakan pertemuan di sebuah restoran. Dan pada saat janji-temu antara Frank dan Lucy inilah, Frank menemukan petunjuk dibalik kematian misterius beberapa orang di Fairwater dan jawaban atas munculnya angka di dahi yang ternyata diakibatkan oleh sesuatu yang datang dari dunia lain yang juga memiliki hubungan erat terhadap kematian istrinya dan sebuah insiden pembunuhan masal di masa lalu yang dikenal dengan nama“Bradley-Bartlett Murder Spree”.

Dibandingkan Braindead, karya gore-nya yang sekarang telah menjadi cult, The Frighteners sih jauh lebih lembut. Boleh dibilang film ini gabungan dari tema psikopat dan hantu dengan sentuhan CGI canggih pada masa itu, berbalut dengan komedi. Walaupun begitu, penggambaran si hantu pencabut nyawa lumayan bikin kagum, kayak the Reaper! … yah kalau menggambarkannya susah, lihat saja wujud  Dementor dalam Harry Potter and the Prisoner of Azkaban. Dan si ‘Reaper’ ini juga bukan hanya bisa menghabisi nyawa manusia, sesama hantu juga dia libas. Bagi fan Re-Animator, bisa menikmati kembali penampilan Jeffrey Combs (si professor sinting Herbert West) sebagai agen FBI (sinting juga) yang selalu mencurigai Frank dan menderita penyakit ambeien serta memiliki potongan rambut aneh. Karakternya sangat mengesalkan. Disini ia mengalami nasib tragis; kepalanya meledak tertembak (scene-nya komikal namun HBO Asia menyensornya!) dan arwahnya gentayangan.

Setting tempat yang ada dalam skenario sebenarnya adalah sebuah kota di Amerika, namun seperti biasa, Jackson selalu setia dengan tempat tinggalnya Selandia Baru. Dalam film ini ia juga muncul beberapa detik sebagai orang berpenampilan goth dengan kaos bergambar the Reaper (tak perlu petunjuk dari trivia dvd, soalnya saya familiar sama mukanya). Saya juga suka tampilan flashback dalam film ini. Tone dan amosfer lembut blur-nya benar-benar serasa balik ke zaman dulu termasuk scene masa lalu pembunuhan masalnya. Jika selama menonton film ini bayangan akan film seperti Ghostbusters muncul, tidak salah kok, memang seperti itu. Namun The Frighteners lebih unggul karena punya twist, more drama dan lebih gelap serta tentu saja, special efek yang lebih canggih.

SCORE : 4/5

Posted in Film Ini Itu | Tinggalkan komentar