A PLAY : WAWANCARA IMAGINARY DENGAN ANJALINA SONDAKH

(Wawancara ini hanya fiktif belaka. Bila ada persamaan dengan beberapa kisah hidup anda, kemungkinan anda sedang berhalusinasi. Kalau ada yang tersinggung, berarti ia menganggap fiksi adalah fakta. Ribet ah!. Pokoknya wawancara ini fiktif. TITIK!)

Sebagai salah seorang penikmat apel Washington dan apel Malang ilegal, Anjalina Sondakh – kita panggil saja Anjali- terpaksa mendekam di penjara setelah beberapa investigasi dan tangisan saat terduduk lemas gemulai di pengadilan akibat ulah rekan-rekan sesama penikmat apel illegal mengkhianati dirinya. Padahal ia telah bersusah payah melakukan akting kelas atas; salah satunya berakting memperlihatkan bagaimana tingkah seorang seleb yang tidak pernah menyentuh barang paling populer di dunia, yaitu BlekiBeerry, hanya demi menyelamatkan rekan-rekannya yang dulu juga turut berakting di depan kamera pada pembuatan kampanya Partai Democrack untuk mengatakan TIDAK! pada korupsi satu juta rupiah – namun mengatakan YESS! Untuk korupsi milyaran rupiah.

Kali ini, saya, sang reporter mencoba menembus barisan pengamanan yang dikira canggih dan intens, ternyata hanya dijaga oleh para sipir yang kebetulan sedang nobar dan menikmati dengan serius acara X-Fucktor. Dan karena acara menonton mereka tidak mau diganggu, saya langsung dipersilakan masuk dan mencari sendiri kurungan yang didiami Anjali. Setelah mengelilingi penjara yang ternyata memiliki pendingin dan pengharum ruangan itu, akhirnya kurungan yang dicari pun ditemukan. Kebetulan Anjali lagi sibuk BBM-an! Saya langsung menyapa. Awalnya Anjali merasa heran hingga saya bilang bahwa saya reporter dari sebuah infotahiment, wajah penuh sambutan bahagia pun terpancar. Karena kunci gembok kurungan tidak diberikan, dengan terpaksa saya hanya bisa duduk di lantai, di luar kurungan sambil memulai pertanyaan dengan tangan kiri menggenggam erat terali besi yang baru saja dicat dan tangan kanan memegang tape recorder.

Karena para pembaca sudah tidak sabar-menyambar, langsung saja, mari kita mulai dengan berdo’a menurut kepercayaan masing-masing … MULAI! :

——————————————————————————————————————————————

REPORTER

Bagaimana kabarnya mbak Anjali. Kayaknya betah nih. Soalnya saya perhatikan dari tadi cekikikan terus sama senyum-senyum terus. Sama garuk-garuk kepala terus.

ANJALI

Iya nih mas, hihihihi … baru tau kalau di penjara ini saya diperbolehkan bawa BlekiBeerry. Ada wi-fi-nya lagi. Jadi … akhirnya saya kembali merasakan betapa asyiknya BBM-an setelah semua penderitaan kemarin. Tau sendiri ‘kan mas gimana saya harus jadi blo’on, pura-pura ‘gak punya BB. Padahal saya tau beberapa nama produk BB, seperti Coruv, Setrum, Dacochan, Gimana. Asyiknya, hari ini saya banyak di invite sama cowok-cowok muda cakep! Jadinya merasa muda lagi, hihihihi

REPORTER

Oke. Bagaimana rasanya … walaupun mbak memang bersalah ya, dijadikan tumbal oleh rekan-rekan mbak, padahal mereka juga menikmati apel-apel ilegal itu. ?

 ANJALI

Iya sih, mas. Sebenarnya saya sudah dalam situasi nothing to lose ya. Harusnya dibeberkan saja waktu itu. Tapi entah kenapa saya takut melakukannya. Setiap saya ingin mengatakan yang sejujurnya, pasti sosok cewek dengan rambut menutupi wajah selalu muncul di belakang setiap orang. Akhirnya saya hanya bisa menangis. Selain karena pengkhianatan mereka, saya juga menangis karena rencana mau keliling dunia bersama kecengan baru jadi gagal total. Terus acara pengen pamer mobil baru juga batal. Saat ditendang ke penjara juga, diluar sana lagi musim-musimnya pamer gadget canggih mas. Saya jadi ‘gak punya kesempatan buat pamer. Padahal dengan apel ilegal yang jumlahnya berlimpah, semua gadget mobile bisa saya beli buat dipamerkan sama anggota-anggota dewan yang lain. Sedih rasanya …

REPORTER

Iya, saya mengerti, mbak. Tapi, mau terang-terangan gak mbak. Kalau boleh tahu, siapa saja yang terlibat menikmati apel-apel ilegal tersebut mbak?

ANJALI

Banyak sih mas. Saya masih gak bisa ngasih nama mereka, soalnya masih eksis di tv sih. Yah, kayak rahasia umum lah. Jadi mas bisa tebak sendiri siapa. Mereka minta apel-apelnya lewat DM di Twitter. Terus nama akun-nya sok alay semua. Entahlah, sudah dihapus atau belum, tapi mas bisa nemuin akun-akun itu. Ada dua yang masih saya ingat. Kalau nggak salah @Monas_cintaQ, @Suka_Bur_Yam. Kalau yang lainnya … karena saya sering makan Pahadol, jadinya … sudah lupa tuh.

REPORTER

Karena liputan kasus ini, jadinya mbak disorot kamera terus. Nah, bagaimana rasanya berakting di depan kamera, tapi ‘gak dapat bayaran?. Mulai akting dodol ‘gak punya BB sampai nangis bombay.

ANJALI

Hihihi, ada untungnya juga ya kena kasus begini. Soalnya saya jadi bisa memperlihatkan kemampuan akting berkelas, sekelas para aktris di festival film Berlinang lah. Semacam pengasahan lah, reading alami, jadi tak perlu ambil kelas akting kan. Dan lagi, karena disiarkan di tv nasional, saya juga berharap ada produser sinetron atau layar lebar, melihat saya dan tertarik mengontrak saya. Kalau menurut mas, akting dodol saya meyakinkan ‘gak?

REPORTER

Kalau akting nangis-nya sih kurang meyakinkan. Mata dicolok pakai minyak angin juga langsung merah berair, hehehe Kalau dodol-nya sih sangat meyakinkan… Mbak memang dodol ya …?

ANJALI

Ah, mas ini kok gitu. Saya ‘kan putih mas. Dodol hitam manis. Tapi mas, kalau saya gak dodol ‘gak mungkin bisa jadi wakil rakyat. Wakil rakyat kan orang-orang yang dodol. Ada sekolah ambruk, jembatan rusak, rakyat pengen ini-itu ‘gak pernah mau tau. Punya laptop, masih juga nyatet pake kertas. Waktu malam dugem, waktu rapat tidur. Surel gak punya, tapi bisa bilang di http://www.komisi50%@yahud.com. Sejatinya mas, men-dodol itu sudah tradisi buat wakil rakyat di DPR.

REPORTER

Hemm menarik juga penganan manis ini …eh saya jadi terbayang-bayang soal makanan hehehe… Terus soal hukuman yang menjerat mbak Anjali. Menurut sebagian besar masyarakat, hukuman empat tahun itu terlalu ringan. Sedangkan kejahatan yang dilakukan mbak Anjali dan rekan-rekan harusnya sudah bisa ditimpali dengan hukuman seumur hidup atau mati misalnya. Pokonya tidak setimpal lah.

ANJALI

Yah, menurut saya sih memang kurang. Namun, karena pengadilan sudah memutuskan segitu, ya sudah,  saya manut saja. Kalau saya minta lebih, nanti apa kata dunia. Masa’ ada tersangka kejahatan pengen hidup lama di penjara. Tapi sebenarnya saya pengeeeen lebih lama disini. Soalnya ngerumpi sama ngelamun makin ashik! Apalagi ditemani lagu Rhoma versi koplo hehehe

REPORTER

Loh kok malah pengen lebih lama?

ANJALI

Saya bosan dengan sesuatu yang sama. Saya ingin lama. Saya ingin di pasar, nyanyi dangdut bersama Nasar Kesasar. Gimana ya mas, soalnya anak saya masih kecil. Saya ingin kalau keluar nanti, anak saya sudah bisa buang air sendiri, makan sendiri, tidur sendiri dan mandi sendiri. Kalau hanya empat tahun di sini ya, anak saya pasti masih kecil. Repot mas ngurusinnya. Sebenarnya saya paling ogah kalau jagain anak-anak, mas. Saya lebih suka shopping sama teman, dugem kalau perlu. Untung ada ayah saya. Biarlah dia gantikan posisi saya dulu. Adeknya mas Adjiep juga mau kok ngurusin anak-anak saya.

REPORTER

Wah. Jadi bener nih, mbak lebih suka di sini. Apa sih yang membuat mbak betah selain lepas dari persoalan mengurus anak tadi ?

ANJALI

Ya itu tadi mas, supaya lebih enjoy ngerumpi sama ngelamun tadi. Lalu, saya juga diperbolehkan punya laptop. Lumayan mas, buat ngetik bikin autobiografi. Perjalanan hidup saya kayaknya juga menarik kalau dijadikan buku. Atau, kalau mau, saya bikin novel kayak Twilight tentang cinta terlarang seorang perempuan terhadap sebentuk genderuwo. Jadi nanti ada siluman kera yang juga naksir dia. Cinta segitiga lah.

REPORTER

Wah, ternyata wawancaranya jauh dari yang saya bayangkan! Saya kira akan ada derai air mata, curahan hati yang luka. Tapi sebaliknya, malah ada keceriaan. Korupsi di Indonesia boleh saja makin merajalela, namun semuanya itu baik untuk pelaku. Karena dari itu cobalah melakukan hal yang dilakukan oleh Anjalina dan rekan-rekannya. Walaupun hidup menderita di kemudian hari, tapi jadi punya momen tak terlupakan yaitu bisa memegang uang banyak dan barang-barang mewah. Akhirnya saya ucapkan terima kasih kepada mbak Anjali atas kesediaanya meluangkan waktu. Satu pertanyaan lagi mbak. Kalau keluar nanti, masih bakal mau nikmati apel-apel illegal lagi gak?

ANJALI

Yeah, do’akan saja semoga saya bisa lebih piawai dan punya banyak strategi dalam memanen apel yang lebih banyak. Terima kasih juga mas sudah menjenguk saya… ngomong-ngomong, punya pin BB ‘gak mas, boleh minta?

REPORTER

Oh, saya ‘gak punya BB mbak, cuma punya Noqia Asah. Nanti saya beli BB juga mbak, supaya kita bisa saling komunikasi, kalau-kalau mbak dapat bagian apel ilegal lagi dan berencana mau bagi ke saya. Okeh, saya pergi dulu mbak. Semoga lekas keluar terus bisa kena kasus lagi hehehe

ANJALI

Duh, mas ini … Hehehe, oke deh, mas. Kebetulan saya mau broadcast soal ini… eh, banyak yang nge-ping saya nih. Bubay massss…!

——————————————————————————————————————————————TAMAT –

 

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Apapun Itu. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s