Sneak Peek Salah Satu Scene dari Final Destination : Full Throttle

finalSeorang anak sd berjalan di trotoar membawa koleksi kelerengnya dalam sebuah bowl aquarium. Dari belakang seorang pria sedang terburu-buru. Ia tersandung dan jatuh menimpa si anak . Bowl dari tangan sang anak terhempas dan pecah . Kepala si anak dengan lajunya mengarah ke serpihan kaca yang besar dan runcing  tersebut. Puluhan kelereng bergulir ke jalan. Sepasang kekasih menginjaknya dan mereka tergelincir ke jalan tatkala sebuah pick-up melaju kencang. Sopir pick-up dengan sigap menghindar namun sebuah bus wisata dibelakangnya menabraknya dengan keras sehingga pick-up terjungkal dan kembali menghantam sepasang kekasih yang sedang mencoba bangkit dari jatuh. Sopir bus yang panik mencoba menghentikan laju bus namun rem tak berfungsi. Dengan teriakan histeris dari para penumpang di dalamnya, bus itu meluncur deras menuju sebuah perayaan Pride, dimana kerumunan orang sedang menyaksikan para gay dan transgender ber-parade.

Dipublikasi di Apapun Itu | Meninggalkan komentar

STAKE LAND

Ini adalah sebuah film zomb … eh, ternyata bukan. Ini adalah sebuah film bertema post-apocalypse yang biasanya memiliki gerombolan zombie di dalamnya. Kali ini, wabah yang menyerang manusia agak berbeda. Manusia menjadi makhluk penghisap darah yang familiar dengan sebutan vampire dimana dalam film ini memiliki sebutan berbeda-beda. Jadi, malam adalah waktu yang berbahaya.

Martin (Connor Paolo) adalah seorang remaja yang harus menjadi yatim piatu. Ia diselamatkan dari serangan vampire yang memangsa kedua orangtuanya oleh seorang pemburu vampire berjuluk Mister (Nick Damici). Mister pun menjaganya dan mengajarkannya berbagai hal tentang bagaimana bertahan dan menghadapi serangan vampir. Mereka juga tak mau berlama-lama menetap di negara yang telah porak-poranda itu. Karena itu keduanya menuju sebuah tempat yang damai dan aman di Kanada bernama New Eden. Dalam perjalanan, mereka bertemu orang-orang yang memiliki tujuan sama serta harus berhadapan dengan sebuah sekte yang berbahaya selain para vampire tentunya.

Awalnya saya tidak begitu tertarik menonton film ini, karena kurang begitu suka dengan vampire. Tapi, hey, banyak film yang saya anggurin ternyata lezat untuk dinikmati. Film ini juga begitu, sang sutradara Jim Mickle dan Nick Damici sendiri memberikan treat berbeda. Para cast sudah tentu bermain gemilang, walaupun tak terdapat nama-nama besar. Stake Land menggabungkan sebuah road movie bernarasi indah, FX secukupnya, hingga saya jadi berpikir kalau Stake Land memang sebuah road movie. Jika drama road movie terkadang memberikan kita perenungan dengan narasinya, Stake Land juga begitu. Cuma bedanya ada tambahan vampire dan adegan berdarah yang sadis. Ya, jadi untuk beberapa saat kita akan diterpa rasa tegang, ngeri kemudian tenang hehehe.

Para desainer produksinya juga patut diacungi jempol. Mereka sepertinya sudah sangat bersusah payah menghasilkan look-look menawan dari film indie ini. Jangan bandingkan dengan film post-apocalypse lain yang ber-budget besar. Film ini hanya berbudget 4 juta dollar dan diputar hanya dalam 1 layar!  Namun biaya ini masih sangat massif dibandingkan film  Jim Mickle dan Nick Damici sebelumnya, Mullberry Street (juga bertema wabah shape-shifter, seingat saya, orang-orang yang terkena wabahnya memiliki wujud seperti tikus got dan set lokasinya juga jarang disentuh oleh horror zombie-like, yaitu kota New York!) yang hanya berbudget US$60.000.

SCORE : 4/5

Dipublikasi di Film Ini Itu | 2 Komentar

SPLINTER

Kalau tahu punya budget pas buat bikin film, pastinya harus pintar-pintar dalam meramu naskah agar efektif. Salah satu film yang memakai ‘efektif’ dengan benar dalam kasus ini adalah SPLINTER. Hitung saja dari barisan cast (sudah termasuk pemeran pendukung) yang tak sampai dengan jumlah jari yang ada di kedua tangan. Setting tempat … ya segitu deh: sebagian kecil jalan dan hutan, yang utama adalah sebuah gas station. Penggunaan fx dan cgi juga tampak pas. Relevan dengan ke-efektifan ceritanya, makhluk penyebar terror dalam film ini juga digambarkan dalam bentuk yang tidak bombastis; kecil-kecil cabe rawit lah …hehehe…

Di awal film kita diperlihatkan seorang pria diserang oleh kamera … maksudnya sesuatu yang menggambarkan diri sebagai si makhluk. Apakah si pria mati? Kayaknya …? Soalnya penonton langsung digiring ke scene dimana ada dua pasang kekasih berbeda bertemu. Pastinya karena berbeda maka terjadi tabrakan kepentingan. Polly dan Seth adalah pasangan yang sedang mencari tempat berkemah, sedangkan pasangan satunya, Dennis dan Lacey sedang mencari tumpangan buat melarikan diri. Karena itulah mereka harus jahat buat mendapat tumpangan dari Polly dan Seth.

Kemudian karena kewajiban sebuah alat transport yang tidak bisa lepas dari yang namanya gas station, maka mampirlah keempatnya di sebuah gas station terpencil yang sedang ditinggalkan penunggunya. Karena Lacey ingin pipis, tentunya ia harus ke kamar kecil dong. Namun sialnya Lacey menemukan sang penunggu gas station tergeletak di dalamnya. Mati sih, cuma seperti zombie, ternyata si penunggu station menyerang Lacey. Dan dari situlah situasi penuh ketegangan berlanjut. Ada hal yang saya suka dari film ini. Yaitu bagaimana para karakter yang dijadikan survivor, di-treat untuk menjadi tangguh sekaligus lovable. Penonton bakalan menyukai mereka. Pertama, penonton akan menyukai sosok Polly (exactly! Sekilas Jill Wagner terlihat mirip Charlize Theron) juga sikap-nya yang tidak jatuh menjadi cewek tukang teriak dan merengek khas film horror. Seterusnya Seth, yang di awal film diperlihatkan geek dan tidak tahu apa-apa mulai memberikan pemikiran dan beberapa usaha yang bisa dibilang jagoan. Kemudian kita akan bersimpati terhadap si penjahat Dennis yang pada akhirnya merelakan hidupnya.

Dan sinematografi –nya …?, diatur sedemikian rupa untuk menampilkan kelebihan dari fx yang sebenarnya sangat minim. Goncangan untuk beberapa scene tegang, kemudian statis untuk ‘scene harap-harap cemas’ ditampilkan dengan baik. Pokoknya efektif-lah. Benar-benar sebuah film horror thriller sederhana yang sedap! Beberapa mungkin ada yang kurang setuju dengan pendapat saya, namun saya begitu menikmati film ini. Kalau pun nanti harus ditonton lagi dan lagi, kayaknya oke saja. Karena film ini memang efektif membuat tegang!

SCORE : 4,5/5

Dipublikasi di Film Ini Itu | Meninggalkan komentar

THE WOMAN IN BLACK

Dibuka dengan tiga gadis cilik cantik yang sedang bermain bersama. Entah mengapa mereka tiba-tiba mengalihkan pandangan dan berbalik menuju jendela, bukan karena tergoda oleh suara paman penjual es krim namun .. entahlah. Dengan pandangan kosong, mereka melompat dari jendela yang terbuka, yang juga kebetulan mempunyai tiga lubang untuk membuat  … yah lumayan buat meringkas scene dan menjadikannya tampak indah dengan tambahan slo-mo. Jadi tidak antri melompat satu persatu apalagi dorong-dorongan.

Kemudian kita dibawa ke scene lain, dimana Arthur sedang terganggu oleh mimpi buruk kematian istrinya.  Arthur berencana akan menuju sebuah desa terpencil dimana ia akan menunaikan tugas terakhirnya mengurus peninggalan seorang klien perusahaan di tempat ia bekerja.  Kedatangan Arthur di desa itu ternyata tidak disambut baik. Ia disarankan kembali saja dan tidak usah mengurusi peninggalan berupa rumah yang dipercaya penduduk di sana sebagai rumah terkutuk. Namun Arthur mencoba untuk meneruskan tugasnya sembari mencari tahu rahasia apa yang sedang disembunyikan penduduk dan juga disimpan rumah tersebut. Semakin dalam Arthur menggali, situasi yang tak diinginkan pun menjadi lebih dalam. Sebuah sosok tak terjelaskan yang menjadi pusat kutukan ini, ternyata merupakan penyebab kematian terhadap anak-anak di desa tersebut.

The Woman in Black adalah film kesekian dari sutradara James Watkins yang di tahun-tahun kemarin melambung akibat anak-anak psiko dalam Eden Lake,  juga melanjutkan film horror makhluk-makhluk perut bumi dalam The Descent II. Kali ini Watkins coba membuat horror subtle, yang kebanyakan telah diperkenalkan oleh filmmaker Jepang maupun Korea. Seperti Dark Water atau Ringu tentunya, The Woman in Black tidaklah mengunggulkan penampakan hantu yang sering dan jelas apalagi cipratan darah . Film ini memberikan ketidaknyaman kepada penonton dengan suara-suara (atau terkadang kesenyapan) dan gambar dari benda-benda yang kita kenal namun ternyata cukup creepy dalam syut tertentu.  Yah tentunya, buat penonton yang suka disiram darah bakal tak suka film ini. Tapi buat yang suka main petak umpet akan menikmatinya. Loh?

Belum pernah membaca novelnya, namun desainer produksi untuk rumah berhantunya benar-benar membuat takjub. Ia berada di antara dataran luas rendah yang selalu dilewati pasang surut air laut. Kalau pasang kadang tak bisa pulang atau malah tak bisa kemana-mana.  Jadi punya keinginan deh rasanya  tinggal di tempat seperti itu. Benda-benda seperti boneka (paling banyak tampil nih!) dan berbagai barang masa lalu membuat film ini seperti horror yang indah.  Tapi apakah penonton masih teringat dengan Harry Potter ? Hemm, walaupun terlihat terlalu muda untuk menjadi duda beranak satu,  penampilan Daniel  tanpa kacamata sudah agak lumayan membuat penonton lupa akan Harry Potter … iya, lumayan …. Namun yang pasti, ending film ini membuat  the Woman in Black sendiri kecewa  … penasaran?.

SCORE : 3/5

Dipublikasi di Film Ini Itu | Meninggalkan komentar

CHRONICLE

Andrew adalah anak penyendiri dan kurang bergaul. Keadaan keluarganya mungkin yang membuat ia begitu; ibunya sakit keras dan ayahnya pemabuk dan suka melakukan kekerasan. Juga bukan karena ia tidak ingin punya teman, tapi sebagian besar anak-anak di sekolah menjauhinya. Siapa sih yang pengen sendiri.

Andrew baru saja punya camcorder yang selalu ia nyalakan kapanpun “apapun-alasannya” . Kamera itu juga menjadi sarana penyampaian gambar ke penonton. Nah jadi maklumi saja kalau film ini (rencana awalnya sih mau seperti found footage) jadi terlihat seperti rekaman acara piknik keluarga. Langsung saja ya, si Andrew ini hanya akrab berteman dengan sepupunya Alex dan teman lamanya Steve. Suatu malam mereka menemukan gua yang didalamnya terdapat “entah-apakah-itu-yang bersinar” dan ketiganya langsung pingsan di tempat.  Setelah siuman, mereka tiba-tiba memiliki kekuatan super! Mereka begitu menikmati kekuatan ini. Kalau saya yang dapat, pengen juga rasanya ngerjain orang, atau tiap malam sebelum tidur, melayang-layang dulu sambil duduk di atas awan tebal menikmati bulan dan pemandangan kota hehehe ….

Pada awalnya semua kesenangan itu hanya dalam ukuran bercanda hingga Andrew mulai  menggunakannya diluar batas. Permasalahan di rumah juga tambah membuat Andrew lebih emosional. Dengan kekuatannya ia ingin membantu pengobatan ibunya dengan mendapatkan uang dari jalan yang salah: merampok?. Hemmm … padahal jika si Andrew berjiwa wirausaha, ada baiknya ia mengadakan pertunjukan sulap seperti yang ia lakukan pada acara unjuk bakat di sekolah bersama Steve. Pastinya bakal menyaingi para pesulap hebat di Las Vegas dan tentunya penjualan tiket akan selalu sold out, uang yang banyak pun bakal mengalir. Yah, tapi kalau si Andrew jadi pemain sulap filmnya bakal ‘gak seru dong. Makanya si Andrew  ini ceritanya dibikin punya kekuatan lebih dari teman-temannya dan tentunya berubah jahat muahahahaha …. Untungnya juga  ada ikatan batin antara Andrew dan Alex yang selalu memberi pertanda bagi Alex bilamana Andrew sedang pengen ini atau itu. Kalau tidak ada hal ini, film akan lebih bad-ass, sebab Alex tidak akan tahu kapan Andrew membuat masalah.

Nah yang jadi masalah utama dari film ini; rencana awal kalau gambar-gambar di film hanya akan berasal dari kamera Andrew, adalah salah besar. Di acara pesta pada awal film saja sudah diperlihatkan kalau footage juga berasal dari kamera seorang blogger cewek bernama Casey. Kayaknya sutradara Josh Tank dan penulis Max Landis berupaya menyampaikan cerita dari berbagai kamera. Makanya gambar –gambar dari kamera reporter, CCTV, kamera dari helicopter dan mobil polisi, juga tak ketinggalan kamera milik Casey yang secara bergantian menampilkan siaran langsung  pertarungan seru antara Andrew dan Alex. Tak mungkin kan si Andrew mengambil gambar sambil gontok-gontokan.  Buat penggemar Paranormal Activity dan film-film sejenis yang didalamnya ada orang-orang yang sangat suka mengambil gambar walau dalam situasi yang tak memungkinkan, akan menyukai film ini. Beda dengan film sejenis yang selalu bertema klenik dan horror, film ini menampilkan cerita a la superhero

SCORE : 3,5/5

Dipublikasi di Apapun Itu | 2 Komentar

THE HUMAN CENTIPEDE 2 : FULL SEQUENCE

Film pertamanya First Sequence punya tagline “100% Medically Accurate” dan Full Sequence punya tagline sebaliknya “100% Medically Inaccurate” . The Human Centipede 2 : Full Sequence, dihadirkan dalam warna hitam putih ditambah suasana hujan terus-menerus. Beberapa suasana hujan terlihat dipaksakan dan menggelikan karena hanya hujan dalam bentuk efek digital (melihat tanahnya: kok kering hihihi). The Human Centipede: First Sequence ternyata berhasil menciptakan seorang fan gila; sesosok midget penjaga parking lot yang pendiam bernama Martin. Rupanya karakter Dr. Heiter di film telah memberikan fantasi yang membuatnya terobsesi menciptakan ‘kelabang manusia’ yang lebih panjang. Pekerjaannya, mencari ‘bagian’ kelabang ternyata lumayan mudah. Tinggal menunggu para pemilik mobil mendatangi mobilnya tembak kaki dan lumpuhkan dengan linggis yang dipukulkan ke kepala. Pemukulan kepala ini juga lumayan banyak diulang di beberapa scene. Kenapa harus memukul kepala terus ya? mungkin pikir Tom Six agar terlihat lebih brutal daripada harus memakai pembius.

Sebelas ‘calon kelabang’ telah terkumpul. Seseorang yang Martin anggap istimewa dalam barisan kelabang manusia ini adalah salah satu cast yang bertahan hidup di akhir cerita The Human Centipede : First Sequence yaitu Ashlynn Yennie. Dengan memakai nama besar Quentin Tarantino, agen Miss Yennie tertipu dan menyetujui aktrisnya untuk mengikuti audisi ‘iklan sabun’ (hehehe maksudnya audisi bohongan) yang diadakan si Martin. Kok bisa percaya ya kalau Tarantino mau ngadain audisi. Untuk film apa? Django Unchained? Agen yang tolol, kalau sutradaranya pengen ya, sudah nelpon si Yennie sendiri secara langsung. Tapi sudahlah si Yennie-nya saja percaya kok dan akhirnya dapat scene pemukulan kepala juga.

Dengan pengetahuan merakit Lego dan Gundam serta ketrampilan menyulam yang minim, si Martin dengan percaya diri memulai penyambungan 12 bagian manusia kelabangnya. Scene penyambungan ini lumayan membuat nyeri. Akibat sembarang bongkar, dua orang terpaksa tidak bisa dipakai untuk perakitan. Namun perakitan terus berjalan hingga akhirnya dengan segala keterbatasan ‘manusia kelabang’ pun tercipta. Gawatnya, si Martin juga ingin mencoba hal yang dilakukan Dr. Heiter yaitu  …. Ah lumayan bikin mual untuk diceritakan.

Lalu bagaimana nasib miss Yennie? Saya kira akan ada yang spesial dengan comeback-nya di sini. Saya pikir ia akan menjadi sesosok survivor seperti Ripley di seri Alien atau Sydney Prescott dalam seri Scream. Saya mengharap ia akan menghabisi Martin. Ternyata nasibnya tidak kalah mengenaskan dari sebelumnya, walaupun kali ini dia tidak perlu menempatkan wajahnya di pantat seseorang -karena dinobatkan sebagai ‘kepala kelabang’-, namun ia harus kehilangan lidah.

The Human Centipede 2 tidaklah spesial karena memang ia berada di belakang sebuah film fenomenal yang punya tujuan memberikan depresi dan rasa jijik kepada penonton. Namun The Human Centipede 2 juga punya Martin (Laurence R. Harvey) yang pendek dan gembul namun remarkable.  Nilai lebih juga patut diberikan kepada para cast kelabang yang rela tampil telanjang dan menerima pergantian seluruh dialog dengan adegan anal (kemungkinan bakal dilirik para produser adult films).  Apapun  itu The Human Centipede 2 adalah salah satu contoh kegilaan dalam sinema dimana tampilannya diminimalisir dengan monotone. Mungkin dikemudian hari akan keluar dvd atau Bluray versi warnanya yang bakalan membuat penonton yang kurang puas kegirangan.

SCORE : 3/5

Dipublikasi di Film Ini Itu | Meninggalkan komentar

THE KIDS AREN’T ALL RIGHT!

Anak-anak itu kadang nggemesin, terutama yang umurnya balita sampai TK. Tapi beberapa juga sudah menyebalkan sejak memasuki kelas satu SD. Anak-anak itu lugu, pada dasarnya. Namun anak-anak juga bisa menjadi karakter yang sangat kontras dengan dunianya yang indah  di beberapa film. Dan ini beberapa film pilihan saya, para aktor cilik yang diberikan peran yang mengundang kontoversial. Walaupun sebenarnya tidak selalu anak-anak (contoh iblis yang merasuki anak-anak, orang dewasa jahat yang statue-nya seperti anak-anak), tetapi karena pemeran yang masih cilik, belum menginjak umur 13 tahun, maka menjadi pertimbangan . Ini list yang dibuat tanpa rank, jadi pilhannya ya random. Ada 13, dengan alasan sederhana : karena 13 angka yang dikenal angker hehehe … Kalau ada rekomendasi, yah, dari film favorit atau anak tetangga atau ponakan yang masuk dalam syarat, bisa diajukan, hehehe. SPOILER ALERT!

1. Samara Morgan (THE RING (USA))

Kalau nonton Ringu, versi Jepang dari film ini, sosok hantunya, Sadako diperankan oleh perempuan remaja. Entahlah, kenapa versi Amerika ini memilih anak kecil sebagai hantu pembalas dendam bernama Samara (Daveigh Chase, suka banget denger suaranya sebagai Lilo dalam Lilo & Stitch) yang kecanduan membunuh orang dengan kekuatannya, siapa saja walaupun mereka bersimpati padanya. Samara bisa ‘mengedit video’ dan menelepon. Lalu muncul dihadapan Anda sekalian dengan mengarahkan ‘pelototan mata’ sebagai caranya membunuh dan ia tak dapat dihentikan.

2. Joshua Cairn (JOSHUA)

Saya tidak yakin motif nih anak melakukan semua kejahatan gara-gara iri sama adik perempuannya. Kalau dia iri, sudah pasti dia bunuh saja adiknya. Tapi ini, mulai dari meneror sang ibu, membunuh anjing, mendorong neneknya sampai tewas, sampai membuat si bapak menamparnya berkali-kali dihadapan publik, Joshua (Jacob Cogan) malah terlihat seperti seorang psikopat cerdas yang sedang tumbuh.

3. Gage Creed (PET SEMATARY)

Ajaib, sebelum mati, Gage (Miko Hughes) terlihat lucu banget, menggemaskan. Tapi lihat mimiknya setelah bangkit dari kubur! Waa dengan pisau begitu! Mungkin orang-orang yang nonton film ini ketika awal rilisnya terkesima sama bocah yang masih ngompol sembarangan bisa acting jadi mayat hidup yang doyan membunuh orang. Tapi, untuk hal ini, …apakah tidak absurd. Melawan setan bocah saja tidak bisa. Kalau saya sih, tinggal dilibas pakai kursi saja, pasti si Gage sudah K.O.

4. Esther (ORPHAN)

Nah, kalo yang ini termasuk aktornya yang cilik. Walaupun begitu, kita selalu memandang si Esther (Isabelle Fuhrman) sebagai anak kecil. Iya, anak kecil yang jahat, yang memiliki banyak misteri yang tak boleh diketahu orang lain dan semua penonton tahu kenapa Esther naksir betul sama ayah angkatnya. Esther punya banyak akal licin baik demi kelangsungan hidupnya atau demi kelancaran dalam upayanya menghabisi nyawa orang lain.

5. Hit-Girl / Mindy Macready (KICK-ASS)

Tak bisa dibayangkan, biasanya di film kita cuma mengenal sama pembunuh komersial dengan julukan hitman dan Kick-Ass memperkenalkan kita pada Hit-Girl, sosok gadis cilik yang beraksi dengan cekatan menghabisi lawannya tanpa ampun mulai dengan menggunakan katana sampai pistol. Tampilan gadis mungil nan manis Mindy Macready (Chloë Grace Moretz) ternyata cuma tipuan dimana kata-kata kasar dan senjata adalah mainan sehari-harinya.

6. Claudia (INTERVIEW WITH THE VAMPIRE)

Vampir cilik ini begitu buas setelah dirinya tahu bahwa darah itu sangat lezat. Guru les pianonya saja juga jadi korban. Pokoknya mau darah, lagi dan lagi. Film vampir selalu berkaitan dengan yang namanya seks dan videotape … maaf, darah maksudnya. Dan agak tabu sebenarnya menampilkan anak-anak dalam dua hal seperti itu. Namun Kirsten Dunst terlihat ‘alami’ saat melakukan adegan berciuman dan membunuh Lestat.

7. Jennifer ([REC])

Anak kecil yang digendong ibunya dan sempat diwawancara tokoh utama film ini, begitu pendiam. Tentu saja begitu, karena Jennifer (Claudia Silva) sedang demam, hingga semuanya berubah kacau kala Jennifer menyerang sang ibu. Sosok gadis cilik ini adalah zombie paling stand out dalam film bertema demonic zombie dari Spanyol ini. Jarang ada anak kecil memerankan zombie dengan ‘lepas’ seperti ini. Di layar, Jennifer terlihat begitu berbahaya dan mengerikan! Dan ia masih tampil dalam sequel-nya.

8. Dark Alessa/The Reaper (SILENT HILL)

Ada tiga peran yang harus dimainkan oleh Jodelle Ferland: Sharon, Alessa kecil dan si iblis dengan wujud gadis cilik. Sebagai aktor cilik, Jodelle sebenarnya terlalu banyak bermain dalam film bertema supranatural dan sejenisnya. Namun, perannya sebagai The Reaper dengan wajah pucat serta aliran darah dari mata inilah yang agak remarkable. Apalagi dia punya tujuan membalaskan dendam dengan menghabisi nyawa para penganut ajaran sesat yang telah merenggut masa kecil Alessa.

9. Olive Hooper – (LITTLE MISS SUNSHINE)

Olive Hooper (Abigail Breslin) begitu gembira untuk turut serta dalam beauty pageant versi anak-anak. Semua peserta menampilkan bakat yang biasa dilihat pada umunya, seperti menyanyi dan lenggak-lenggok. Namun Olive punya sesuatu yang lebih dari anak-anak lain miliki; sebuah tarian erotis ajaran sang kakek, yang sepantasnya ditampilkan oleh seorang striper dan bukan seorang gadis cilik. Mungkin karena peran inilah Breslin dipilih menjadi anak Ryan Reynolds dalam Definitely, Maybe untuk mengucapkan kata “penis & thrust” dengan ‘lantang’.

10. Yeong-ju – (PHONE)

Sama halnya seperti Esther, Yeong-ju (Eun Seo-woo) juga punya masalah hati dengan ayah kandungnya. Tapi kasusnya berbeda. Ia dirasuki arwah selingkuhan si ayah. Makanya sebagai anak kecil, ia rewel bukan karena pengen sesuatu, tapi pengen selalu dekat dengan ayahnya yang sekaligus kekasihnya. Ciuman penuh nafsu yang dipagutkan si gadis cilik kepada ayahnya bakal membuat beberapa penonton takjub bukan kepalang dan berfikir kalau Eun Seo-woo sudah memilik bakat untuk bermain dalam film romans dewasa.

11. Walker & Texas Ranger Bobby – (TALLADEGA NIGHTS: THE BALLAD OF RICKY BOBBY)

Dua anak ini punya mulut paling kotor sedunia. Sama siapapun, bahkan dihadapan orang tua dan kakek mereka, Walker (Houston Tumlin) dan Texas Ranger (Grayson Russell) tidak punya rasa sopan sama sekali. Dengan santainya mereka mengumpat. Tapi dengarlah umpatan yang mereka lontarkan. Texas Ranger memiliki umpatan agak sedikit lembut dengan teriakan “ANARCHY! ANARCHY!”, namun beda dengan Walker yang lebih tua, ia punya banyak kata-kata jorok nan kasar untuk dilontarkan  hingga sang kakek hanya bisa mengelus dada mendengarnya.

12. Henry Evans – (THE GOOD SON)

Ini adalah keputusan berani Macaulay Culkin setelah penampilan menggemaskannya dalam dua film Home Alone. Henry (Macaulay Culkin) adalah bibit psikopat yang punya wajah imut.  Membunuh anjing tetangga dan merasa senang menjadi penyebab kecelakaan lalu lintas hanya sebagian kecil dari sisi psikotiknya. Selain pandai memperdaya orang-orang  disekitarnya, ia juga berencana membunuh semua anggota keluarganya. Mengerikan!

13. Oskar & Eli (LET THE RIGHT ONE IN – Låt den rätte komma in)

Jangan bandingkan ini dengan dongeng vampire Twilight. Oskar (Kåre Hedebrant) adalah bocah yang sering di-bully di sekolah, dan ia punya hobi aneh, mengumpulkan berita-berita kriminal dan pembunuhan serta senang menyendiri dengan rubik-nya, bersahabat dengan Eli (Lina Leandersson) seorang penghisap darah yang selalu tampak seperti gadis cilik lugu. Dengan unsur darah , kegelapan dan kesadisan, anak-anak seharusnya tidak berada di film ini, tapi lihatlah senyum keduanya setelah terjadi beberapa kematian.

Dipublikasi di Apapun Itu | 1 Komentar