Saya menonton film ini sebelum kematian Brittany Murphy. Entah memang menjadi pertanda atau apa. Dan saya mengira ini film horror (ada film horror yang berjudul sama). Pada kesempatan pertama, saya tonton film ini dengan keadaan ngantuk dan urung dinikmati a.k.a akhirnya tidak ditonton. Suatu hari, setelah acara membersihkan lemari, saya temukan kembali film ini dan mencoba untuk menontonnya. Eh, ternyata nge-hook. Benar-benar sebuah film indie yang bertaburan bintang layaknya It’s the Rage atau 20 Bucks. Film ini dibagi dalam lima cerita yang memiliki benang merah berupa judul filmnya sendiri.
Diawali dengan The Stranger yang berfokus pada tokoh Arden (Toni Collette) yang tinggal bersama ibunya. Arden adalah wanita pendiam dan pemalu hingga ia menemukan mayat sang gadis dan menjadi sorotan dan bertemu dengan Rudy (Giovanni Ribisi) seorang pria penjaga toko yang menjadi teman kencannya.
Kedua, The Sister, tentang seorang mahasiswi forensik bernama Leah (Rose Byrne) yang depresi dengan hilangnya saudara perempuannya selama 15 tahun. Depresi ini timbul akibat sikap orangtuanya yang masih yakin bahwa anak mereka suatu saat pasti kembali. Leah meyakini bahwa sang gadis yang ia autopsy adalah saudaranya dikarenakan adanya tahi lalat yang memilki kesamaan letak.
The Wife merupakan cerita ketiga tentang seorang istri, Ruth (Mary Beth Hurt) yang tidak bahagia dengan pernikahannya dimana sang suami Carl (Nick Searcy) yang tak tahu berterima kasih sering tidak berada di rumah, sementara ia tetap melaksanakan kewajibannya mengurus rumah dan memasak. Pada suatu saat Carl pergi, Ruth menemukan laci berisi pakaian wanita yang sobek dan berdarah. Diantara ingin melaporkan suaminya atau menjaga keutuhan rumah tangga, Ruth malah mengenyahkan barang bukti yang ia temukan.
The Mother adalah bagian yang agak menenangkan dan mengharukan setelah menonton tiga cerita penuh depresi diatas. Dalam bagian ini, diceritakan seorang ibu bernama Melora (Marcia Gay Harden) yang merupakan orang tua dari Krista, the Dead Girl, tengah mencari dimana keberadaan terakhir sang anak sebelum meninggal. Ia bertemu dengan Rosetta (Kerry Washington) yang merupakan teman sekamar sekaligus ‘kekasih’ Krista yang menceritakan segala hal yang dihadapi Krista semasa hidup. Melora juga dipertemukan dengan sang cucu yang akan bawa dan rawat.
Dan terakhir adalah bagian yang merupakan titular dari film ini, The Dead Girl mengambil masa sebelum Krista (Brittany Murphy) menemui ajal. Dalam bagian ini kita diperlihatkan sosok Krista yang manis dan selalu ceria. Melakukan perjalanan untuk menemui putrinya yang akan berulang tahun. Di jalan ia bertemu dengan Carl, dari bagian The Wife, yang memberi tumpangan sekaligus sebagai seseorang, yang penonton ketahui sendiri sebagai pembunuh dari Krista.
Sebenarnya saya juga perlu panjang lebar memaparkan bab-bab dari filmnya. Namun, karena ini bukanlah film misteri thriller maka sinopsis diatas bukanlah sebuah spoiler. Bagi yang suka dengan Four Rooms, Babel, Amores Peros, It’s The Rage tak dapat disangkal, The Dead Girl akan mudah disukai. Film ini ditulis dan diarahkan oleh seorang sutradara wanita, Karen Moncrieff yang telah muncul di banyak serial dan film televisi. Walau memiliki direktorial layar lebar sangat sedikit (ada tiga termausk The Dead Girl ini), namun film sebelumnya berjudul Blue Car (dari dulu sampai sekarang belum dapat –dapat filmnya) yang berisi kisah cinta terlarang antara murid dan guru, banyak menuai pujian. Entah karena hal itu atau karena naskahnya, berbondong-bondong aktor kelas A mau bergabung dalam film ini. Dan ensemble casts inilah yang merupakan magnet dari film ini.
Tampilan sederhana memperkuat kekelaman dan kesuraman yang ditawarkan film ini. Bukan film yang berat, namun menarik dan memuaskan. Aktor-aktornya tidak ada yang tampil ‘menor’ karena dituntut lusuh. Dan mungkin dikarenakan sebagian besar aktornya langganan film drama, semuanya terlihat menawan. Beberapa aktor pria yang tampil di film ini adalah aktor favorit moviegoers ; Giovanni Ribisi, James Franco dan Josh Brolin yang rela tampil ‘sedikit’. Juga jangan kaget, karena film ini penuh dengan perempuan –dari judul, dominasi pemain hingga sutradaranya- tidak salah kalau mereka sedikit “have fun”. Iya, mungkin karena sama-sama perempuan tiga dari aktor wanita disini (tak mau sebut namanya, biar penasaran hehehe) dengan nyamannya melepaskan pakaian mereka (ciri khas film indie nih) yang sepertinya merupakan penggambaran dari melepaskan diri dari “kegelisahan, kegundahan dan masalah yang menerpa” dan lesbian scene antara Kerry Washington dan Brittany Murphy itu juga termasuk.
SCORE : 4/5