Ini adalah film Peter Jackson yang kurang ‘nyaring’. Padahal dari sisi hip dan hiburan, film ini selayaknya menjadi tontonan popular dan dikenal oleh penggemar film. Bisa dibilang ini adalah film Jackson yang underrated setelah melegendanya Braindead (untuk pasaran Amerika judulnya Dead Alive). Film Amerika pertama Peter Jackson yang dibuat setelah tiga tahun dari rilisnya Braindead ini diproduseri oleh Robert Zemeckis dan ditulis oleh istri Jackson sendiri, Fran Walsh. Sebagai fan yang mengidolakan Michael J. Fox, Zemeckis meminta karakter Frank dalam film ini dibuat khusus hanya untuk J. Fox.
Filmnya sendiri adalah spesialisasi Peter Jackson; fantasi-horror-komedi (walaupun sebenarnya ia ahli di genre mana saja). Artinya sebrutal,sesadis, semengerikan apapun tampilannya selalu ada jeda untuk tertawa. Berkisah tentang Frank Bannister (Michael J. Fox), seorang cenayang yang telah mendapatkan reputasi sebagai penipu. Padahal bakat yang ia miliki memang ada. Sayangnya ia menggunakan kemampuannya dengan salah; berteman dengan tiga hantu yang ia jadikan rekan kerja –menyuruh ketiganya untuk menghantui sebuah rumah hingga pemilik rumah terpaksa menghubungi ‘pengusir hantu’, siapa lagi kalau bukan Frank sendiri.
Namun kejadian aneh menghantui kota yang bernama Fairwater ini. Beberapa orang mati dengan jantung diremas. Padahal pemeriksaan menyatakan tubuh mereka dalam keadaan normal dan tak memilki penyakit jantung. Frank pun belum mengetahui apapun tentang kematian ini hingga ia bertemu dengan pasangan suami istri, Ray Lynskey (Peter Dobson) dan Dr. Lucy Lynskey (Trini Alvarado) yang merupakan korban penipuan Frank. Saat ‘drama pengusiran’ di rumah mereka, Frank melihat angka muncul di dahi Ray. Entah pertanda apakah itu, namun keesokan harinya Frank sudah bertemu dengan Ray yang tak sadar dirinya telah meninggal. Ray meminta Frank menjadi penghubung antara dirinya dan istrinya, Lucy. Keduanya kemudian mengadakan pertemuan di sebuah restoran. Dan pada saat janji-temu antara Frank dan Lucy inilah, Frank menemukan petunjuk dibalik kematian misterius beberapa orang di Fairwater dan jawaban atas munculnya angka di dahi yang ternyata diakibatkan oleh sesuatu yang datang dari dunia lain yang juga memiliki hubungan erat terhadap kematian istrinya dan sebuah insiden pembunuhan masal di masa lalu yang dikenal dengan nama“Bradley-Bartlett Murder Spree”.
Dibandingkan Braindead, karya gore-nya yang sekarang telah menjadi cult, The Frighteners sih jauh lebih lembut. Boleh dibilang film ini gabungan dari tema psikopat dan hantu dengan sentuhan CGI canggih pada masa itu, berbalut dengan komedi. Walaupun begitu, penggambaran si hantu pencabut nyawa lumayan bikin kagum, kayak the Reaper! … yah kalau menggambarkannya susah, lihat saja wujud Dementor dalam Harry Potter and the Prisoner of Azkaban. Dan si ‘Reaper’ ini juga bukan hanya bisa menghabisi nyawa manusia, sesama hantu juga dia libas. Bagi fan Re-Animator, bisa menikmati kembali penampilan Jeffrey Combs (si professor sinting Herbert West) sebagai agen FBI (sinting juga) yang selalu mencurigai Frank dan menderita penyakit ambeien serta memiliki potongan rambut aneh. Karakternya sangat mengesalkan. Disini ia mengalami nasib tragis; kepalanya meledak tertembak (scene-nya komikal namun HBO Asia menyensornya!) dan arwahnya gentayangan.
Setting tempat yang ada dalam skenario sebenarnya adalah sebuah kota di Amerika, namun seperti biasa, Jackson selalu setia dengan tempat tinggalnya Selandia Baru. Dalam film ini ia juga muncul beberapa detik sebagai orang berpenampilan goth dengan kaos bergambar the Reaper (tak perlu petunjuk dari trivia dvd, soalnya saya familiar sama mukanya). Saya juga suka tampilan flashback dalam film ini. Tone dan amosfer lembut blur-nya benar-benar serasa balik ke zaman dulu termasuk scene masa lalu pembunuhan masalnya. Jika selama menonton film ini bayangan akan film seperti Ghostbusters muncul, tidak salah kok, memang seperti itu. Namun The Frighteners lebih unggul karena punya twist, more drama dan lebih gelap serta tentu saja, special efek yang lebih canggih.
SCORE : 4/5